Bagaimana Memasuki Pasar Peru?

Peru merupakan negara di kawasan Amerika Selatan (Latin) bagian barat dan berbatasan dengan Samudera Pasifik. Wilayah Peru dibagi menjadi 25 departemento. Departemento ini terbagi lagi menjadi 196 provinsi dan 1867 distrik.

Peru dianggap sebagai “rising star“ karena mempunyai ekonomi yang kuat berdasarkan data IMF dan Peru telah membuat kemajuan dalam kinerja makro yang dalam beberapa tahun terakhir memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang dinamis serta inflasi yang rendah 3,23% tahun 2016.

Hubungan diplomatik dengan Indonesia dibuka pada 2002. Pada tahun ini dengan adanya kegiatan Pameran dagang yaitu Expoalimentaria dan Expotextil yang sudah beberapa kali KBRI LIMA berpartisipasi di dalamnya.

Tentunya, banyak pelaku ekspor UMKM yang ingin mengenal seperti apa potensi di Peru dan bagaimana cara masuk ke Pasar tersebut.

Berikut Kami mencoba menampilkan ulasan singkat yang sumbernya diolah dari Kementerian Luar Negeri secara khusus KBRI LIMA dan Juga Kementerian Perdagangan RI.

STANDART OPERATING PROCEDURE IMPOR BARANG DI PERU

  1. Perusahaan Jasa Bea Cukai (Customs Broker)
  2. Impor Barang < US$ 200, tidak dikenakan pajak, (umumnya via kurir : DHL,TNT, dsb)
  3. Impor Barang Maksimal hingga US$ 2,000 maka para importir dapat
  4. Jika nilai Impor > US$ 2,000 proses pembebasan melalui agen yang ditunjuk Badan Perpajakan Nasional (Peru).
  • Perkiraan Harga Barang Oleh Bea Cukai (Customs Valuation)

Penentuan perkiraan harga barang  impor (CIF) dari Dinas Bea Cukai Peru) yaitu melihat dari nilai invoice serta kredibilitas importir setempat.

  • Dokumen-dokumen

Pada umumnya dokumen apabila melakukankegiata ekspor, seperti Packing list, Invoice, B/L, Surat Keterangan Asal, dsb.

Secara khusus untuk produk obat-obatan dan kosmetik harus mendapat izin Digemid (Dirjen Obat-obatan dan bahan baku) dan untuk produk makanan-minuman menadapat ijin dari Digesa (Dirjen Kesehatan Lingkungan)di bawah Kementerian Kesehatan.

MATRIKS STANDART OPERATING PROCEDURE IMPOR BARANG DI PERU dapat diakses pada halaman ini

KARAKTERISTIK PASAR

1. Kondisi Pasar

Peru menganut perdagangan pasar bebas, produk impor dari berbagai negara dapat masuk ke Peru sepanjang memenuhi stándar produk ataupun peraturan impor yang telah ditentukan.

2.Selera pasar

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ipsos-Apoyo, menyebutkan bahwa level masyarakat atau kelas sosial Peru umumnya terdiri dari lima kelompok kelas yaitu A, B, C, D dan E.

Pemberian penilaian kelas diberikan berdasarkan upah atau gaji yang diterima oleh setiap keluarga.

Hasil peneltian hingga tahun 2011 lalu, berdasarkan level sosial, masing-masing kelas memiliki nilai dan selera pasar yang Berbeda-beda.

  1. kelas A dan B lebih memiliki barang maupun produk-produk yang bermerek dan berkelas serta citra rasa serta kualitas yang baik dan tinggi. Kelompok kelas ini membeli suatu barang jika mereka memang menyukainya tanpa melihat harga.
  • Kelas C atau kelas menengah cenderung mencari barang dengan nilai yang lebih bermanfaat atau memiliki nilai tambah tanpa memikirkan berapa nilai yang harus dibayar untuk produk yang dicari tersebut.
  • Kelas D dan E. umumnya membeli atau mencari produk dengan harga yang paling murah dan kurang memperhatikan kualitas maupun mutu dari suatu barang. Kelompok kelas menengah ke bawah umumnya baru melakukan pembelian jika ada diskon harga yang terkadang hingga mencapai 50%.

Diskon tersebut biasanya muncul pada hari-hari besar atau nasional Peru seperti Natal (Desember), HUT Peru (bulan Juli), hari Ibu (bulan Mei), Hari Ayah (bulan Juni), saat pergantian musim (empat musim).

Penjualan produk pelindung sinar matahari mengalami peningkatan di musim panas di bulan Desember-April seperti sun block, kaca mata hitam, dll.

HUBUNGAN PERDAGANGAN DAN INVESTASI

  1. Pada 2017, total perdagangan Indonesia – Peru mencapai USD 229 Juta dan tren dalam 5 tahun terakhir turun sebesar 2,38% .
  • Ekspor Indonesia ke Peru pada 2017, tercatat sebesar USD 166 Juta dan impor dari Peru mencapai USD 63 Juta . Indonesia surplus sekitar USD 103 miliar pada 2017.
  • Ekspor Utama Indonesia (Dalam USD Juta):

 (1) Motor cars & other vehicles, 44.3

 (2) Footwear Leather, 13.01 

 (3) Paper and Paperboard, 12.9

(4) Footwear Textile, 9.8

 (5) Yarn, 8.1

Sumber : Ditjen Perundingan Perjanjian Internasional Kementerian Perdagangan RI.

HAMBATAN PERDAGANGAN

  1. .Bea Masuk (Tarif)

          Peru menerapkan pajak dan pungutan barang-barang impor antara lain.

  1. Membayar pajak impor (0%, 6% dan 11% tergantung dari produk)
  2. Membayar pajak penjualan 16%
  3. Membayar pajak pemerintah daerah 2%
  4. Asuransi 1,5% – 2%.
  5. Pajak Barang Selektif (produk bea dan cukai)
  6. Pajak khusus (diterapkan pada impor produk pertanian)
  7. Pajak percepción (10% untuk pertama impor, 3,5% untuk impor kedua.
  8.  Antidumping (jika produk dari suatu negara dikenakan antidumping)
  • Hambatan Non-Tarif

Pemerintah Peru tidak menerapkan hambatan dalam perdagangannya dengan Indonesia.

Pemerintah Peru akan memberikan hambatan terhadap produk asal Indonesia maupun negara lain jika ditemukan adanya laporan dari institusi atau asosiasi industri dalam negeri yang menyebutkan bahwa harga produk asal Indonesia dipandang telah merugikan produksi dalam negeri.

TIPS PENTING :

  1. Para pengusaha Peru melakukan pertemuan bisnis melakukan di beberapa tempat seperti kantor, restaurant maupun hotel. Pertemuan bisnis untuk pertama kali biasanya dilakukan di kantor namun jika sudah kenal dan akrab pertemuan sering  dilakukan di restauran dan tak jarang di hotel.
  • Bersikap jelas dan tegas terutama untuk hal-hal berkaitan dengan harga, jadwal  waktu dan bentuk pembayaran. Umumnya pengusaha Peru lebih memilih pembayaran dengan kredit mulai dari 30-120 hari.
  • Pengusaha Peru cukup sopan, biasanya mereka tidak mau diganggu selama dalam pertemuan dan tidak menjawab telepon atau menyampaikan bahwa dirinya sedang dalam pertemuan.
  • Umumnya pengusaha Peru dapat berbicara bahasa Inggris walaupun mereka  lebih suka berbicara dalam bahasa Spanyol.
  • Dalam hal melakukan pertemuan negosiasi, terkadang dihadapkan dengan tim dari perusahaan sebelum mengambil keputusan final.
  • Pengusaha Peru ketika melakukan negosiasi bisnis secara terus terang apakah memang membutuhkan suatu produk dimaksud. Jika negosiasi telah selesai dilaksanakan, jika memang benar-benar membutuhkan produk dimaksud, akan mengirim dan menjawab email dengan cepat. Sebaliknya akan mendiamkan email kita.
  • Dalam hal waktu, pengusaha Peru sudah terbiasa agak telat walaupun akan menyatakan tepat waktu. Selain itu juga terbiasa menyampaikan melalui asistennya perihal keterlambatannya.
  •  Untuk pakaian, biasanya mengenakan pakaian formal (setelan jas atau pakaian resmi).
  1. Pengusaha Peru akan berbicara secara langsung ke topik tujuan hingga apa yang menjadi maksud dan tujuannya tersampaikan. Setelah itu baru bercerita tentang hal lain.

KESIMPULAN

Dalam konteks peluang produk untuk UMKM di Indonesia, Jika indikatornya adalah statistik impor Peru dari Indonesia, maka produk tekstil, sepatu kulit, dan benang (dengan serat sintetis putus) memiliki peluang besar.

Selain itu berdasarkan informasi dari Fungsi Ekonomi KBRI Lima per Mei 2019, terdapat beberapa Inquiry yang masuk berupa Furniture, makanan laut kaleng, sabun, bulu mata, kertas dan karet.

Untuk mendapat informasi lebih lanjut Pengusaha juga dapat berkonsultasi langsung yaitu dengan:

  1. Fungsi Ekonomi KBRI LIMA,
  2. FTA Center Kemendag di 5 Kota pilihan (Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Makassar), 
  3. Kedutaan Besar Peru di Jakarta, dan juga Commercial Office Peru di Jakarta di kawasan Mega Kuningan.

*Notes : Indonesia belum memiliki Free Trade Agreement (FTA) dengan Peru, sejauh ini status trade negotiations masih sebatas Finished Joint Study. Masih perlu proses yang panjang untuk mencapai sebuah Perjanjian dagang yang dapat memudahkan transaksi dan sebagainya.

YUDHISTIRA H.N.P

WhatsApp

LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 × = 6